Monday, August 1, 2016

Muara



Aku tak tahu ke mana
hidup kelak bermuara
ke sungai atau ke laut
satu perhentian sebelum maut
Rasa-rasanya aku ingin dibawanya hanyut
melarut
jatuh di tengah pusaran Semesta
Aku bulir pasir dalam arus-Nya yang rahasia
melayang-layang
mengawang-awang
di mana hilirku berada 

Friday, July 15, 2016

Kembali



Aku bermimpi
Aku berdiri di puncak menara
Menantang langit serta hal abadi lainnya
“Bapa,
Aku ingin ria!
Aku ingin meregang nyawa!”
Ku tak mau seorang pun mencari
Karena aku terlahir sendiri
Mengembara jalanan ratap pedi

Jangan kau tangisi
Kau dan aku hanyalah sementara-sementara tanpa arti
Anggur tak merayakan pergi
Anaknya yang hilang, sungguh akan kembali

Kembali. Kembali.

Ah, sebentar lagi.

Saturday, July 9, 2016

Paus



Inginku berlari
Ke hutan, ke pantai
Berteriak "sepi, kusepi, kusepi!"
Biar saja
Biar mati aku ditelan laut, dimakan paus
Biar jauh-jauh aku dari pedihku
Tak selamanya
Tubuh terkoyak, jiwa terlelap
Di pesisir kelabu
Izinkan aku sekali lagi berseru
Seiku, sepiku, sepiku
Tangisku, tangisku, bukan tangismu.

Monday, May 16, 2016

Tidak Ada Yogyakarta Hari Ini

ilustrasi oleh Sanjaya Faisal


Tidak ada Yogyakarta hari ini
Tidak kemarin, tidak nanti
Di jalanan wajah berlalu lalang
menyelinap dalam gelap bayang
sementara-sementara yang memudar hilang

Bila waktuku tiba 
Semalam saja
aku ingin merengkuh kamu
merayakan kemenangan atas duka, lara, dan air mata
Pedihmu biar larut
Jiwamu biar lebur
satu dengan aku
yang tak tahu kapan detik kembali berdetak

Di sudut-sudut kota rindu
adakah kita kembali bertemu?

Friday, January 22, 2016

A Love Letter to People Who Are Going through A Difficult Time in Their Life.



Hello, I’m Aditya.
You may not know me. Even more, this is the first time we have ever talked, I suppose. Nonetheless, these facts are not that important.

To whom it may concern, I know you are going through a lot of problems in your life.
Maybe, it is your abusive, ignorant partner. Maybe, it is a family matter you choose to keep to yourself. Or maybe, there are several things that make you not confident enough to face the world.

Dejected, depressed—you believe you are not good enough for people you love.
Saddened—you think that you will endure all this pain by yourself.
I feel you. I’ve been going through the phase myself and in fact, I quite understand how you feel.

But I assure you. You are not inferior.
You are attractive enough. You are amazing. You have the capability to go further and change the world.

And you are not alone.
We are here, we will not leave you. ‘We’ could be anything; the bestfriends who always look for you everyday, your loving parents who will listen to your problems, your lover who always has a way to make you laugh, strangers in the street who will smile to you, toys and games that will make you forget of your sadness, books and a cup of a coffee if you are in the mood for a tranquility.

Whenever you are feeling down, whenever you are crying, remember there will always be a moment of happiness later. Still, have you already encountered it? The laughter, the cries of joy, the freedom—these great memories of your life make you want to jump and fly, no?

And let me tell you.
Those moments, those memories, are real.

Hang in there.
I believe in you.
I love you.

Saturday, May 2, 2015

Tik. Tok.



“Tik. Tok.”
oleh Aditya Adinata
  

(Untuk yang sedang dirindu)

***


Tik. Tok.
Jam menunjukkan pukul 16.30. Lima belas menit lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Tak masalah. Aku memang begitu memuja konsep agung sang Waktu. Bagiku, membuang satu mili sekon sama saja dengan membuang berjuta-juta probabilitas. Aku takkan bisa menebak apa yang terjadi kemudian. Mungkin aku akan jatuh tergelincir. Mungkin aku akan menemukan sebuah tas berisi uang milyaran rupiah. Atau mungkin aku akan tak sengaja menubruk seseorang, menolongnya berdiri, berkenalan, luruh bersama dalam tawa dan secangkir kopi hangat. Entahlah. Namun, untuk detik ini saja, biarkan aku membangkang prinsipku. Percayalah, waktu ialah musuh bagi mereka yang tengah menunggu. Rasa-rasanya, aku ingin menemukan tas berisi uang milyaran rupiah itu dan segera menukarnya untuk sembilan ratus detik lebih cepat.

Tik. Tok.
Detik berdetak. Orang berlalu lalang. Langkah bergerak bak sekelebat bayang. Delapan menit. Delapan menit lagi sebelum aku betul-betul menyaksikan sendiri pipi yang tak ubahnya seperti pipi ikan kembung. (Ya, ikan kembung. Memang sebesar itu). Aku tersenyum kecil. Sejenak, kuingat obrolanku dengan dia baru-baru ini. Kami tengah membicarakan sebuah lagu The Smiths favoritku setelah aku mengirimkannya video musiknya. Dia tertawa melihat bagaimana Jim Morrisey, sang vokalis, menggerakkan tubuhnya dengan anggun di atas panggung. “Lagunya bagus tetapi kenapa narinya harus begitu, sih?” ucapnya seraya tergelak. Jujur saja, aku hanya menganggap obrolan itu sebagai angin lalu—transisi dari satu momen ke satu momen yang lain. Namun, aku melihat suatu makna di baliknya. Hal-hal bodoh yang kau lakukan juga tertawakan bersama menjaga sebuah interaksi tetap kontinu. Mereka menciptakan keterkaitan dan keterkaitan menciptakan rasa. Dan aku menemukan keterkaitan bersama dia.
Aku ingat betul. Bagaimana aku yang hanya bercanda, betul-betul mendapat nomor kontak dia. Bagaimana dia dengan spontan menertawakan logat khas daerahku saat pertama kali mengobrol. Bagaimana obrolan selanjutnya membawa aku dan dia menyanyikan Fly Me to The Moon bersama. Bagaimana aku tak henti-hentinya mencibir saat dia menceritakan kisah cinta dengan mantan-mantan kekasihnya.
Kenyamanan. Dia bagaikan rumah dan aku tak ingin beranjak.

Tik. Tok.
Sebuah pengumuman disampaikan oleh pihak stasiun. Taksaka Pagi tujuan Yogyakarta baru saja tiba pukul 15.45 di peron no. 4. Ya, kereta yang dia naiki. Bergegas aku menuju ke pintu kedatangan.


Aku sudah datang. Lalu, tugasku selanjutnya adalah memerhatikan penumpang satu demi satu, mencari satu perempuan dengan muka yang paling bisa dikempiskan.


Pesan terkirim. Saatnya untuk betul-betul memerhatikan penumpang satu demi satu, mencari satu dengan muka yang paling bisa dikempiskan. Lucunya, aku tak pernah melihat mukanya secara langsung selain dari foto-foto yang diunggah di media sosial (itupun tidak banyak—entah dia yang memang pemalu atau aku yang tidak pandai menguntit). Aku menerka-nerka. Apakah ada yang pernah melakukannya? Jatuh pada lembut suara di seberang telepon. Jatuh pada semesta pikirannya. Jatuh pada eksistensi yang tak beraga.

Jatuh pada seseorang yang belum pernah ditemui.
Dia atau ilusi tentang dia.
Atau mungkin, keduanya.

“Hai!”
Tepat sebelum aku larut dalam pikiranku sendiri, seseorang menepuk pundakku.
“Sudah menunggu lama, ya? Maaf, kereta memang sempat berhenti agak lama di Klaten.”
Di depanku, berdiri seorang perempuan. Rambut sebahu, kemeja bercorak hitam-merah, tas di punggung, dan mata yang nampak lelah namun menyiratkan kebahagiaan.
“Maaf ya!”
Seperti gadis kecil, tangannya dia pautkan seraya memasang muka ceria.
Kuanggukan kepalaku. Kupahami satu hal.
Ada satu yang takkan membeku dalam kuasa sang Waktu. Rasa. Hati ialah hilir dari setiap rasa yang saling mencari. Takkan ia hanyut selama nadi masih berdenyut. Rasa akan terus mengalir dalam deras arus kehidupan, dari satu persinggahan ke persinggahan lain, hingga sampai pada akhirnya, ia jatuh, melebur, dan menyatu dengan Samudra, tempat penantian terakhir.
Kini, rasaku telah menemukan Samudranya.


Dia.

***



Tik. Tok.

Detik masih berdetak. Aku dan dia tengah berada dalam kendaraan menuju warung makan favoritku. Tanpa diduga, sekali lagi, sang Waktu bermain-main denganku. Di antara jutaan probabilitas yang tersebar acak dalam satu satuan infinit, tangannya memilih menggenggam tanganku.

Tik. Tok. Tik. Tik. Tok. Tik. Tok. Tok. Tik. Tok.
Dan detak itu, menjadi tak karuan.

Monday, January 26, 2015

Setelah ini, Apa?

“Setelah ini, Apa?”

(artwork by Anzi Matta)
                                                                                      
***

Tak ada satu kata pun yang terucap malam itu. Tidak dari bibirku, tidak dari bibirnya.
Sunyi, namun tak sepi. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara menggema di kepala. Menari, melebur bersama angan yang kucipta.

Setelah ini, apa?

Anggur yang diberikan-Nya,
dua yang dimabukkan dosa,
cerita cinta yang kelak berakhir bak tragedi,

“Setelah ini, apa?”

Dia menatapku lekat.
Aku bisa melihat kebahagiaan bercampur ragu di matanya.
“Tak apa,” ucapnya, “Tidak akan ada yang tahu. Tidak kita, tidak mereka.”

Dan bibir itu memeluk bibirku.
Lagi, lagi, dan lagi.
Dan tuk kesekian kalinya, aku menyerah pada Sang Eros.

Tak apa.
Desah bertumpah ruah.
Tidak akan ada yang tahu.
Peluh menderu pilu.
Tidak kita, tidak mereka.
Dinding kamar menatap kami dingin, seolah menghakimi kami, si pelanggar molaritas.

***

            Pukul 02.10.
Dia terlelap di dadaku.
Dan aku, masih terjaga dalam angan. Menduga-duga, mencari pembenaran dalam sebuah kesalahan.

Setelah ini, apa?


Yogyakarta, Januari 2015
Bon Iver - Towers