Saturday, May 2, 2015

Tik. Tok.



“Tik. Tok.”
oleh Aditya Adinata
  

(Untuk yang sedang dirindu)

***


Tik. Tok.
Jam menunjukkan pukul 16.30. Lima belas menit lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Tak masalah. Aku memang begitu memuja konsep agung sang Waktu. Bagiku, membuang satu mili sekon sama saja dengan membuang berjuta-juta probabilitas. Aku takkan bisa menebak apa yang terjadi kemudian. Mungkin aku akan jatuh tergelincir. Mungkin aku akan menemukan sebuah tas berisi uang milyaran rupiah. Atau mungkin aku akan tak sengaja menubruk seseorang, menolongnya berdiri, berkenalan, luruh bersama dalam tawa dan secangkir kopi hangat. Entahlah. Namun, untuk detik ini saja, biarkan aku membangkang prinsipku. Percayalah, waktu ialah musuh bagi mereka yang tengah menunggu. Rasa-rasanya, aku ingin menemukan tas berisi uang milyaran rupiah itu dan segera menukarnya untuk sembilan ratus detik lebih cepat.

Tik. Tok.
Detik berdetak. Orang berlalu lalang. Langkah bergerak bak sekelebat bayang. Delapan menit. Delapan menit lagi sebelum aku betul-betul menyaksikan sendiri pipi yang tak ubahnya seperti pipi ikan kembung. (Ya, ikan kembung. Memang sebesar itu). Aku tersenyum kecil. Sejenak, kuingat obrolanku dengan dia baru-baru ini. Kami tengah membicarakan sebuah lagu The Smiths favoritku setelah aku mengirimkannya video musiknya. Dia tertawa melihat bagaimana Jim Morrisey, sang vokalis, menggerakkan tubuhnya dengan anggun di atas panggung. “Lagunya bagus tetapi kenapa narinya harus begitu, sih?” ucapnya seraya tergelak. Jujur saja, aku hanya menganggap obrolan itu sebagai angin lalu—transisi dari satu momen ke satu momen yang lain. Namun, aku melihat suatu makna di baliknya. Hal-hal bodoh yang kau lakukan juga tertawakan bersama menjaga sebuah interaksi tetap kontinu. Mereka menciptakan keterkaitan dan keterkaitan menciptakan rasa. Dan aku menemukan keterkaitan bersama dia.
Aku ingat betul. Bagaimana aku yang hanya bercanda, betul-betul mendapat nomor kontak dia. Bagaimana dia dengan spontan menertawakan logat khas daerahku saat pertama kali mengobrol. Bagaimana obrolan selanjutnya membawa aku dan dia menyanyikan Fly Me to The Moon bersama. Bagaimana aku tak henti-hentinya mencibir saat dia menceritakan kisah cinta dengan mantan-mantan kekasihnya.
Kenyamanan. Dia bagaikan rumah dan aku tak ingin beranjak.

Tik. Tok.
Sebuah pengumuman disampaikan oleh pihak stasiun. Taksaka Pagi tujuan Yogyakarta baru saja tiba pukul 15.45 di peron no. 4. Ya, kereta yang dia naiki. Bergegas aku menuju ke pintu kedatangan.


Aku sudah datang. Lalu, tugasku selanjutnya adalah memerhatikan penumpang satu demi satu, mencari satu perempuan dengan muka yang paling bisa dikempiskan.


Pesan terkirim. Saatnya untuk betul-betul memerhatikan penumpang satu demi satu, mencari satu dengan muka yang paling bisa dikempiskan. Lucunya, aku tak pernah melihat mukanya secara langsung selain dari foto-foto yang diunggah di media sosial (itupun tidak banyak—entah dia yang memang pemalu atau aku yang tidak pandai menguntit). Aku menerka-nerka. Apakah ada yang pernah melakukannya? Jatuh pada lembut suara di seberang telepon. Jatuh pada semesta pikirannya. Jatuh pada eksistensi yang tak beraga.

Jatuh pada seseorang yang belum pernah ditemui.
Dia atau ilusi tentang dia.
Atau mungkin, keduanya.

“Hai!”
Tepat sebelum aku larut dalam pikiranku sendiri, seseorang menepuk pundakku.
“Sudah menunggu lama, ya? Maaf, kereta memang sempat berhenti agak lama di Klaten.”
Di depanku, berdiri seorang perempuan. Rambut sebahu, kemeja bercorak hitam-merah, tas di punggung, dan mata yang nampak lelah namun menyiratkan kebahagiaan.
“Maaf ya!”
Seperti gadis kecil, tangannya dia pautkan seraya memasang muka ceria.
Kuanggukan kepalaku. Kupahami satu hal.
Ada satu yang takkan membeku dalam kuasa sang Waktu. Rasa. Hati ialah hilir dari setiap rasa yang saling mencari. Takkan ia hanyut selama nadi masih berdenyut. Rasa akan terus mengalir dalam deras arus kehidupan, dari satu persinggahan ke persinggahan lain, hingga sampai pada akhirnya, ia jatuh, melebur, dan menyatu dengan Samudra, tempat penantian terakhir.
Kini, rasaku telah menemukan Samudranya.


Dia.

***



Tik. Tok.

Detik masih berdetak. Aku dan dia tengah berada dalam kendaraan menuju warung makan favoritku. Tanpa diduga, sekali lagi, sang Waktu bermain-main denganku. Di antara jutaan probabilitas yang tersebar acak dalam satu satuan infinit, tangannya memilih menggenggam tanganku.

Tik. Tok. Tik. Tik. Tok. Tik. Tok. Tok. Tik. Tok.
Dan detak itu, menjadi tak karuan.

Monday, January 26, 2015

Setelah ini, Apa?

“Setelah ini, Apa?”

(artwork by Anzi Matta)
                                                                                      
***

Tak ada satu kata pun yang terucap malam itu. Tidak dari bibirku, tidak dari bibirnya.
Sunyi, namun tak sepi. Aku bisa mendengar sayup-sayup suara menggema di kepala. Menari, melebur bersama angan yang kucipta.

Setelah ini, apa?

Anggur yang diberikan-Nya,
dua yang dimabukkan dosa,
cerita cinta yang kelak berakhir bak tragedi,

“Setelah ini, apa?”

Dia menatapku lekat.
Aku bisa melihat kebahagiaan bercampur ragu di matanya.
“Tak apa,” ucapnya, “Tidak akan ada yang tahu. Tidak kita, tidak mereka.”

Dan bibir itu memeluk bibirku.
Lagi, lagi, dan lagi.
Dan tuk kesekian kalinya, aku menyerah pada Sang Eros.

Tak apa.
Desah bertumpah ruah.
Tidak akan ada yang tahu.
Peluh menderu pilu.
Tidak kita, tidak mereka.
Dinding kamar menatap kami dingin, seolah menghakimi kami, si pelanggar molaritas.

***

            Pukul 02.10.
Dia terlelap di dadaku.
Dan aku, masih terjaga dalam angan. Menduga-duga, mencari pembenaran dalam sebuah kesalahan.

Setelah ini, apa?


Yogyakarta, Januari 2015
Bon Iver - Towers