Wednesday, January 16, 2013

(Bukan) Surat Cinta

Singkat saja, ini bukan surat cinta.
Sekali lagi, ini bukan surat cinta.
Walau aku mengikuti program #30HariMenulisSuratCinta, surat untuk hari ke-3 ini bukanlah surat cinta.

Ya, ini bukan surat cinta. Karena si penulis dan si penerima surat tidak sedang jatuh cinta, tidak sedang diberi ataupun memberi cinta, serta tidak saling cinta satu sama lain.
Ini bukan surat cinta. Bukan begitu, Aura Andaruni?

Tidak perlu berbasa-basi dengan pertanyaan 'apa kabar?', 'sehat kan?', maupun 'aku rindu kamu, kamu rindu aku juga tidak?' karena kita sama-sama tahu apa jawabnya. Apa? Kau tidak tahu? Oke... Mari kita sedikit menyegarkan otak dan menengok ke belakang.
Masih ingat pertama kali kita berkenalan? Lupa? Sama, aku juga.
Masih ingat pertama kali kita mengobrol? Masih? Hebat, aku bahkan tidak ingat.
Masih ingat pertama kali kita pergi bersama? Masih? Ah tentu saja, karena malam itu juga malam minggu pertama aku pergi dengannya dan aku memintamu untuk menemaniku, yah.. walau berujung gagal.

Dan masih banyak hal bodoh lain yang kita lakukan setelahnya. Tunggu dulu... kita? Kamu saja dengan semua tingkah lugumu yang membuatku tertawa serta setiap curhatan yang kau ceritakan dengan hebohnya. Masih berani mengelak? Tunggu sampai suaramu di telepon berhasil kurekam dan kuunggah di internet, hahaha.

Baiklah, kembali serius.
Aura, terima kasih telah menjadi sahabat yang baik selama tiga tahun ini. Terima kasih telah mendengarkan semua ocehan dan curhatan tidak pentingku. Terima kasih telah membolehkan aku ikut melakukan hal-hal bodoh bersamamu hingga kini. Terima kasih telah mempercayakan dirimu kepadaku.
Dan maaf. Maaf jika aku sering mencubit pipimu ataupun mengacak-acak rambutmu tanpa alasan; aku tahu kamu terganggu. Maaf jika kadang aku suka tiba-tiba muncul di depan kelasmu, tidak berkata apa-apa namun tersenyum, lalu pergi begitu saja. Maaf jika kadang aku tak bisa menjadi sahabat yang baik, yang mau mengesampingkan ego dan mendengarkan ucapmu. Maaf jika tingkahku berlebihan.

Ini ialah bagian akhir dari surat, aku akan mengambil kesimpulan.
Aku nyaman denganmu. Kamu tetap bodoh seperti ini pun, aku nyaman denganmu.
Semoga aku bisa menjadi teman yang lebih pengertian lagi untukmu. Semoga kau masih membolehkan aku menjadi bodoh sepertimu. Semoga kita sanggup membuat satu sama lain semakin nyaman. Semoga kita tetap bersahabat baik hingga tahun-tahun mendatang.

Aura Andarruni, kau ialah sahabat yang baik.

Ah iya, satu lagi.
Ini bukan surat cinta.
Dan berhubung nama kita sama-sama berinisial "AA", mengapa kita tidak berjodoh saja?




Teruntuk,


Aura Andaruni Sudar

 


2 comments: